Terios Sang Penjelajah dan Sahabat Petualang

16 Nov 2012

4fb5227980dab07016f735e2224a82e7_terios

“Wooww.. It’s so gorgeous..” Ucapku pertama kali ketika melihat mobil terios sang mobil sahabat petualang. Jika kita berbicara tentang mobil pasti kita langsung terbayang dengan ketangguhan sang terios. Siapa sih yang tidak kenal dengan mobil yang satu ini? Mobil SUV (Sport Utility Vehicle) yang memang diandalkan di gunung-gunung terjal dan jalanan yang susah dan becek dengan kemampuan 4WD (Four wheel drive) atau keempat rodanya dapat berputar dan maju terus tanpa halangan. Pantaslah mobil ini disebut sebagai sahabat para petualang.

Karena jiwa mobil ini sama seperti jiwa petualang yaitu yang memiliki kepercayaan diri dan challenge. Para petualang yang menggunakan mobil ini akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi karena akan terlihat gagah dan berwibawa. Selain itu jiwa yang dimiliki oleh petualang adalah Challenge yaitu keberanian dalam mencintai tantangan dan resiko yang dihadapi. Sama seperti mobil ini yang dibuat untuk berpetualang di area yang terjal dan curam.

Seperti yang sudah dilakukan oleh Daihatsu Terios beserta tim 7 wonders dalam menjelajahi keindahan alam di pulau Sumatera dari lampung sampai sabang yang memiliki spot produsen kopi produsen kopi yang akan menjadi bagian dari eksplorasi kekayaan alam dan budaya Indonesia dan rentang perjalanan ini memiliki jarak rentang tidak kurang dari 3.300km.

Simaklah perjalanan tim 7 wonders yang mengacu adrenalin sehingga membuat kita berdecak kagum :

1. Jakarta - Liwa (Petualangan pembuka Terios 7 wonders)

Kala fajar menyingsing Tim sampai di ujung pulau Sumatera. Kondisi jalan yang mulus merupakan sarana yang ideal untuk berakselerasi. Alhasil kecepatan maksimal 120 km/jam dapat diraih oleh Daihatsu Terios yang kami tunggangi. Sesampainya menjelang kota Lampung, lalu-lintas lumayan padat sehingga tim harus menurunkan kecepatan rata-rata hingga 40 km/jam.

Sesampainya di kota Lampung, sarapan merupakan hal yang mutlak dilakukan, mengingat rentang perjalanan tidak kurang dari 3000 km, baru dilakoni tim Terios 7-Wonders, 300 km. Dari kota Lampung tim bergerak menuju Liwa, Lampung Barat. Perjalanan menuju Liwa yang merupakan wilayah pegunungan ditempuh melalui kawasan Bukit Kemuning, dengan ragam jalan yang didominasi oleh tikungan pendek disertai oleh tanjakan terjal. Kondisi jalan inilah yang menuntut tim untuk pandai-pandai melakukan perpindahan transmisi. Beberapa kali shifter matik Terios AT berpindah dari D-3 ke 2. Sementara untuk yang manual dari 4 ke 3.

Sesampainya di kota Liwa tepat pukul 17.00 WIB yang berudara sejuk, tim masih harus menuju target pemberhentian selanjutnya ke Danau Ranau yang masih tersisa jarak sekitar 25 km dari kota Liwa. Sesampainya di tepian Danau Ranau yang sudah gelap gulita, kami disambut oleh hawa dingin yang menusuk. Setelah beristirahat melepas lelah, Kopi Luwak khas Liwa menjadi santapan pertama kami di pagi buta ditemani oleh semilir angin yang enggan pergi.

Inilah kenikmatan kekayaan kopi Indonesia yang pertama kali dikecap oleh tim. Secangkir kopi panas berikut kudapan pagi, merupakan penyemangat kami tim Terios 7-Wonders untuk melanjutkan petualangan selanjutnya, mengeksplorasi penangkaran Luwak serta menghirup aroma kopi dari perkebunan kopi yang terletak tidak jauh dari Danau Ranau.

ad6a3766295dc1538281603eba9a10fd_img_9934

2. Liwa - Lahat (Secangkir kopi lambang persahabatan)

kunjungan tim 7Wonders di Kabupaten Lahat sungguh punya makna tersendiri. Bagaimana tidak? Orang nomor satu di Lahat, H Saifudin Aswari Riva’i SE segera menemui tim 7Wonders begitu tahu kami sedang menyambangi Pasar Lama kota Lahat. Tak ada suasana formal. Saya memang memang mengajak seluruh warga Lahat untuk lebih terbuka dan menerima dengan baik tamu dari luar. Image Lahat harus berubah menjadi kota yang aman dan bersahabat, tegas Aswari demikian ia biasa disapa.

Di salah satu ujung gang di pinggir jalan kami sempatkan untuk ngobrol-ngobrol sembari menikmati kopi khas Lahat. Lewat secangkir kopi ini, saya mewakili masyarakat Lahat menawarkan persahabatan yang tulus. Saya sangat bangga dan gembira Lahat jadi salah satu tujuan tim 7Wonders, lanjut bupati yang hobi sekali melahap trek off-road penuh tantangan.

Menurutnya kota Lahat adalah kota tertua di Sumatera. Usia kota Lahat saat ni sudah mencapai 130 tahun. Kota Lahat ini dirancang oleh Belanda ketika menjajah di Indonesia. Blue print kota Lahat berupa gambar skets sudah ditemukan lo, tutur Aswari. Berbagai peninggalan Belanda pun bisa ditemukan di Lahat. Salah satunya adalah Sekolah Dasar Santo Yosef dan juga berbagai bangunan tua lainnya.

Budaya minum kopi sediri sudah berlangsung sejak dahulu. Di kabupaten Lahat banyak terdapat kebun kopi Hanya saja karena pemasarannya dikuasai tengkulak maka harga beli kopi dari petani kerap dipermainkan. Sehingga banyak yang mulai meninggalkan kebun kopi. Makanya perjalanan 7Wonders Terios Sumatera Coffee Paradise diharapkan bisa menggairahkan kembali para petani kopi di Lahat untuk mengolah kebun kopi yang lama ditinggalkan.

Obrolan panjang dalam suasana kehangatan ini ternyata masih dilanjutkan keesokan hari di rumah dinas. Saya punya kejutan untuk tim 7Wonders Terios. Makanya besok saya tunggu di rumah ya, bisik bupati Lahat. Wah, makin bikin penasaran saja!
Kejutan yang dijanjikan pun akhirnya terjawab! Lihat mobil dinas saya yang pakai nomor BG 1 E. Saya juga pakai Daihatsu Terios lhoo Hehehehe,bangga Aswari sembari menunjuk Daihatsu Terios yang dijadikan salah satu kendaraan dinasnya.
Mantap!

233471807badf95e322c7605ff2c2ef0_img_secangkir_kopi_persahabatan

3. Lahat - Pagar Alam (Terios melahap Tanjakan Terjal)

Jarum jam menunjukkan pukul 12.40 WIB saat tim 7 Wonders keluar dari halaman hotel Grand Zuri. Jalanan menuju kota Pagaralam agak sedikit bergelombang. Sekitar 20 menit keluar dari kota Lahat jalanan mulai berkelok-kelok. Memasuki perbatasan kota Pagaralam, kelokan jalanannya disertai dengan tanjakan terjal.

Untuk mengatasi handycap ini, shifter matik Terios pun berpindah-pindah. Ketika tanjakan lumayan terjal agar akselerasi tetap terjaga posisi shifter bergeser ke L. Begitu sudah agak landai bergeser lagi ke 2 , D-3 dan juga D. Walaupun penuh dengan penumpang dan barang bawaan, ternyata ketiga terios yang terdiri dari 2 tipe matik dan 1 manual berhasil mengatasi tantangan jalanan ini. Asyik!

Letak pagaralam yang berada kurang lebih 1.000 m dpl di atas permukaan laut membuat udara lumayan sejuk. Di kanan kiri jalan selain teh dan kopi juga ada persawahan yang lumayan luas. Selain surganya kopi dan teh, karena kesuburan tanahnya pagaralam memang sebagai salah satu lumbung padi di Sumatera Selatan.

Tak terasa, kami sudah sampai di persimpangan jalan menuju kota PagarAlam, tapi kami putuskan untuk segera menuju lokasi penginapan di kaki gunung Dempo. Agak kaget juga karena tiba-tiba di jalan disetop beberapa anak kecil. Anak itu bilang, satu mobil Rp 10 ribu Bang. Wah. Ternyata ada preman juga di sini.

Anak-anak kecil ini sepertinya ada yang mengorgansir. Karena di dekat portal ala kadarnya ada beberapa orang dewasa yang duduk-duduk mengawasi. Ketika kami minta karcis tanda masuk dengan yakin anak kecil itu menunjukan segepok karcis yang ada tulisan Pemerintah Kota Pagaralam Retribusi Kawasan Wisata dan Olah Raga. Karcis itu tertera angka Rp 1.500. Hal yang bikin kami jengkel adalah uang Rp 30 ribu hanya diganti 5 lembar karcis yang total nilainya cuma Rp 7.500.

Kami teringat kejadian yang sama ketika memasuki kawasan Wisata Danau Ranau Liwa. Satu mobil dikenai Rp 20.000. Tapi bukti tanda masuk yang diberikan hanya 2 lembar karcis mobil senilai total Rp 10.000 dan juga 3 lembar karcis untuk pengunjung senilai total Rp 6.000. Jadi masih ada kelebihan uang Rp 60.000 Rp 16.000 = Rp 44.000.

Uang-uang tersebut menguap tak jelas kemana. Sungguh menyedihkan korupsi sudah sedemikian merasuknya di negeri ini. Kalau begini bagaimana dunia pariwisata Sumatera bisa maju? Menjengkelkan!!!

Usai check in di Villa dan Hotel Gunung Gare, karena hari masih sore (sekitar pukul 15.00 WIB), kami putuskan menikmati keindahan alam Pagaralam sembari berkeliling untuk mecari perkebunan kopi dan juga tempat pengolahannya. Karena menurut berbagai informasi yang diperoleh Pagaralam adalah daerah penghasil kopi terbesar di Sumatera.

Untuk menemukan kebun kopi di dekat lokasi menginap ternyata tidak sulit. Tapi untuk menemui tempat pengolahan biji kopi, baru bisa di dapatkan di salah satu toko souvenir khas Pagaralam di pusat kota. Sayang karena mesin gilingnya sedang rusak terpaksa proses penggilingan kopi dihentikan.

f9fed47f6b9db2218958aa374d81f14b_sabtu-sore-tim-melintasi-kebun-kopi-pagar-alam

4. Pagar Alam - Empat Lawang (Atasi jalur sempit dan berkelok - kelok)

Sahabat Petualang, usai santap siang di pinggir Sungai, tim 7Wonders langsung mengarahkan tujuan menuju Kabupaten Empat Lawang (Tebing Tinggi). Daerah hasil pemekaran Kabupaten Lahat ini memiliki ikon Biji Kopi. Kopi adalah salah satu komoditas andalan kabupaten Empat Lawang, bilang H. Budi Antoni Aljufri Bupati Empat Lawang ketika mengobrol dengan tim 7Wonders beberapa waktu lalu, sebelum ia berangkat menunaikan ibadah haji 13 oktober 2012.

Jalanan ketika keluar dari kota Pagaralam menuju Tebing Tinggi via desa Jarai Pendopo sebenarnya cukup baik. Hanya saja tidak begitu lebar dan rutenya berkelok-kelok. Butuh kehati-hatian agar tak terjadi kecelakaan. Kondisi jalanan sendiri relatif sepi dengan pemandangan hutan di kanan dan kirinya. Karena kecepatan yang bisa diraih tak bisa terlalu kencang, maka waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan jarak tempuh kurang lebih 121,6 km sekitar 3 jam.

Sesuai pesan Budi Antoni sebelum berangkat ke Mekkah melalui BBM (black berry messenger), maka tim 7Wonders langsung menuju rumah dinas bupati Empat Lawang. Mohon maaf tidak bisa menemani. Silahkan bermalam di Rumah Dinas - Puri Emass. Nanti ada staff yang menemani dan silahkan berkoordinasi, begitu pesannya. Wah mantap Pak Bupati dan terima kasih banyak sebelumnya. Dan semoga bisa menjalankan ibadah haji dengan khusyuk.

Sampai di Puri Emass sekitar pukul 15.30 WIB, dua orang staff bupati Empat Lawang Rudianto Kepala Dinas Perkebunan dan Joko sudah menunggu. Sebenarnya David Aljufri - ketua DPRD Kabupaten Empat Lawang yang juga adik kandung Budi Antoni akan menemani namun usai mengantar sang kakak berangkat haji ke Palembang ada acara mendadak yang tak bisa ditinggal.

Tak jauh dari rumah dinas bupati, kami diajak bertemu Pak Anang Zairi seorang pemilik pengolahan kopi. Kopi di Empat Lawang ini berbeda lo. Ini merupakan hasil percampuran Arabica dan Robusta. Wujud aslinya Robusta tapi aromanya Arabica, jelas Anang. Di rumah Anang, sistem pengolahan kopi sudah tertata dengan rapi. Dan tak hanya kopi saja tapi beberapa panganan ringan dari pisang, singkong juga diproduksi. Malah tak hanya itu madu hutan pun juga diproduksi di sini.

Anang ternyata juga tak hanya pandai memilih biji kopi yang berkualitas. Tapi ia juga jago membedakan bagaimana memilih madu yang bagus. Madu yang bagus menurutnya adalah yang kadar airnya minim sekali. Selain dirasakan lewat indera pengecap lidah ia punya metode sederhana untuk membuktikan madu yang baik. Masukkan sedikit madu ke dalam plastik dan masukkan ke dalam kulkas. Kalau membeku berarti kurang baik. Kalau bagus sampai 6 bulan pun madu tak akan membeku, tegasnya.

087178436aa47115cdd325bd6de9d73d_kopi_emas

5. Empat Lawang - Curup (Menari Bersama Terios)

Petualangan seru bersama 3 Daihatsu Terios kembali dilakukan. Dari Desa Talang Padang rombongan bergerak menuju ke Curup salah satu sentra penghasil kopi di daerah Bengkulu melalui Kepahiang. Jalanan berkelok-kelok naik dan turun membuat kami seolah sedang menari bersama Terios. Jalanannya relatif sepi namun sempit. Pemandangan alamnya sungguh menyejukkan mata.

Selain kopi, tumbuhan yang paling sering ditemukan di kanan-kiri jalan adalah pohon durian. Jangan kaget jika harga durian ketika musimnya tiba satu butir paling banter hanya Rp 3.000. Namun kalau stok berkurang bisa mencapai 25 ribuan tergantung model.

Mesin berkapasitas 1.500 cc yang membekali Terios ternyata masih cukup andal. Pun demikian dengan suspensinya. Beberapa kali Terios kejeblos di lubang jalan, namun tak ada masalah berarti. Akselerasi di tanjakan maupun ketika menyalip kendaraan di depannya baik yang memakai girboks matik maupun manual tetap terasa bertenaga.
Tetapi lagi-lagi, pemakai Terios harus jangan segan memindahkan tuas dari D ke D-3 maupun 2. Bahkan di tanjakan yang terjal agar tak ngempos tenaganya perlu dipindah lagi ke posisi L. Tanjakan dan kelok-kelokan ini ternyata terus mewarnai sepanjang jalan sebelum tim 7Wonders memasuki kota Bengkulu.

20a412b1e6bf477c6fe417713a1448d4_perjalanan-ke-bengkulu

6. Curup - Bengkulu (Menikmati kota Raflesia)

Sahabat Petualang, tak seperti perjalanan sebelumnya yang selalu berpindah penginapan, ketika sampai di Bengkulu tim 7Wonders memutuskan untuk beristarahat agak lama. Mengingat rute Bengkulu Bukittinggi melalui Padang akan kami tempuh secara langsung. Selain itu kami juga akan mengunjungi acara CSR berupa penyerahan bantuan untuk Posyandu dan juga UKM.

Lima Posyandu yang menerima bantuan adalah Anak Bangsa, Mekar Sari, Damai, Flamboyan dan Candra. Sedangkan UMKM yang mendapat bantuan adalah Tiara, Ikan Pais Ibu Jumi, Jepara Maju, Keripik Ikan EZ dan Kopi Bubuk Mandela.

Acara CSR sendiri dipusatkan di main dealer Daihatsu jalan S Parman. Kegiatan CSR ini dihadiri pula oleh sejumlah pejabat Pemkot Bengkulu antara lain Walikota Bengkulu : Bp. H. Ahmad Kanedi, SH, Kepala Dinas UKM Kota Bengkulu: H. Sudarto, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu: Drg. H. Mixon Syahbudin, Ketua Penggerak PKK: Ibu. H. Armelly. Sedangkan dari Daihatsu adalah Div Head Corporate IT: Akmal Kusumajaya dan CEO Tunas DHT : Bpk Zainudin.

Usai mengikuti acara CSR tim 7Wonders langsung bergerak untuk menikmati kuliner di Bengkulu dan juga obyek-obyek wisata sejarah yang ada di kota ini. Karena lapar menyerang kami putuskan santap siang di de Kabayan dengan menu masakan Sunda (soalnya sebagian tim sudah kangen dengan masakan Jawa. Perlu dicatat rumah makan yang paling mudah dijumpai sepanjang perjalanan ke Sumatera adalah masakan Padang). Jadi mesti siap obat penurun kolestrol buat yang punya kolesterol tinggi. Hehehehe

Sayang sekali begitu selesai makan hujan lebat turun membasahi Bengkulu. Karena mendung dan basah maka sesi pengambilan gambar diputuskan menunggu hujan reda. Semua tim kembali ke hotel dan istirahat sembari menunggu hujan reda.

Pukul 16.00 WIB begitu hujan selesai dan sinar matahari menyeruak dari awan maka sesi pengambilan gambar segera dimulai. Sembari menikmati keindahan pantai Panjang yang letaknya persis di depan hotel kami, sebagian tim mengambil dokumentasi. Ternyata sinar matahari kurang bersahabat. Sinar terangnya hanya sebentar suasana langsung kembali mendung. Padahal masih ada beberapa obyek wisata sejarah yang akan disambangi.

Paling dekat dari lokasi kami mengambil gambar adalah obyek wisata rumah pribadi Ibu Fatmawati Soekarno Putri. Letaknya di jalan Fatmawati Bengkulu. Rumah bersejarah yang masuk dalam aset pengprov Bengkulu cukup terawat. Karena sudah tutup kami hanya sebentar saja mampir. Perjalanan langsung dilanjutkan ke rumah pengasingan Bung Karno di sekitar 1940-an.

Letak rumah ini tak jauh dari rumah ibu Fatmawati. Sayang sekali juga sudah tutup sehingga tak bisa masuk ke dalam rumahnya. Ternyata suasana makin gelap karena gerimis mulai turun lagi. Akhirnya kami putuskan untuk membeli sejumlah perbekalan. Persiapan untuk melakukan perjalanan menuju Bukittinggi.Kebetulan ban salah satu Terios tertusuk paku. Maka harus mencari tukang tambal ban untuk memperbaikinya. Sekalian melakukan refueling agar besok pagi bisa langsung meluncur tanpa harus mampir kesana kemari.

24ad19e512c88d7de8465cb70984a799_walikota-bengkulu

7. Bengkulu - Bukit Tinggi (Ujian Ketahanan)

Bengkulu menuju Bukittinggi melalui Muko-Muko Padang sudah kami prediksi bakal menguji fisik dan stamina. Baik anggota tim 7 Wonders maupun Tiga Daihatsu Terios yang dipakai. Rute ini sengaja kami pilih karena semenjak dari Jakarta hingga ke Bengkulu rute yang kami lewati lebih banyak melewati perbukitan. Saatnya menjajal jalanan di jalur pantai barat trans Sumatera.

Petualangan kami melalui rute pantai barat memang terasa berbeda. Kalau sebelumnya didominasi pegunungan dan hutan, kini lebih banyak menikmati pemandangan pantai. Selain cuaca panasnya lumayan menyengat berkisar 35 derajat Celcius, tikungan-tikungan yang ada juga lebih tajam. Sementara karakter tanjakan dan turunannya kurang lebih sama dengan jalur sebelumnya.

Mestinya jalur lintas barat juga relatif sepi bisa membuat perjalanan ini lebih cepat. Kami keluar dari hotel di Bengkulu sekitar pukul 7 pagi kurang. Kami harus bergegas karena tak ingin sampai di Bukittinggi terlalu malam. Ternyata kami baru bisa merapat di tugu Jam Gadang- Bukittinggi tepat pukul 12 malam. Total waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan jarak sejauh 617 Km adalah 18 jam.

Perfoma 3 Terios yang kami bawa ternyata masih tetap mantap. Walaupun kami siksa untuk melahap rute yang dilalui, semua berhasil diatasi dengan sempurna. Semetara kondisi aggota tim 7 Wonders sendiri akibat perubahan suhu yang lumayan cepat berubah-ubah dan juga kurangnya istirahat membuat sebagian orang mulai teserang flu. Tapi sejauh ini semua masih tetap oke dan semangat.

Terjadinya gempa bumi beberapa waktu lalu membuat beberapa ruas jalan mengalami kerusakan bahkan ada yang longsor sehingga terpaksa dibuat jalu yang baru. Selain itu keadaan jalan juga tak begitu lebar membuat perjalanan sedikit terlambat. Apalagi beberapa truk besar dari perusahaan kelapa sawit maupun batu bara kerap berpapasan, sehingga kami harus mengemudikan Terios lebih berhati-hati. Supaya tidak bersenggolan ataupun juga kejeblos di lubang samping jalan yang lumayan dalam dan bisa bikin ban kepater.

Patut jadi catatan jika Anda ingin menikmati rute pantai barat Sumatera hal yang harus diperhatikan adalah minimnya jumlah POM Bensin. Sehingga rasanya perlu membawa jerigen cadangan bensin minimal 10 liter. Jangan pernah ambil resiko mengisi bensin hingga kondisi seperempat tangki. Siapa tahu POM Bensin tutup atau habis akan merepotkan. Kondisi jalanan yang lumayan ekstrem demi keamanan hindari perjalanan di malam hari.

4e6a97444dbf09d808649499ad4bbb0f_jam-gadang

8. Mandailing Natal - Tarutung (Jalanan Rusak)

Jalanan sepanjang Mandailing Natal Tarutung kondisinya tak stabil. Sebagian mulus sebagian lagi rusak parah karena perbaikan jalan yang belum juga selesai. Bekas jembatan yang putus karena banjir bandang sudah diperbaiki.

Kerusakan jalan ini membuat perjalanan agak terhambat. Jalanan tanah berbatu lagi-lagi menguji ketangguhan suspensi Terios. Jujur saja kami terkejut dengan ketangguhan suspensi Terios. Selama dalam perjalanan meskipun harus kami hajar di jalanan jelek ternyata suspensi Terios masih oke.

Walaupun kami berhati-hati, ternyata kecelakaan tak bisa kami hindari. Salah satu Terios yang kami kendarai tiba-tiba slip di salah satu tikungan menjelang Tarutung. Padahal saat itu sedang tidak ngebut. Stir Terios tak mau belok dan meluncur lurus dan berhenti setelah menyenggol semak belukar. Waduh!

Semua rombongan berhenti dan langsung melakukan evakuasi di tengah hujan turun. Kami sudah siap dengan peralatan recovery yaitu strap (tali) untuk menarik mobil. Tak sampai 15 menit, hup! Terios pun kembali ke jalan raya. Cek sana cek sini aman! Hanya penyok di ujung samping sebelah kiri depan. Dan bagian dalam lampu utama ada yang pecah. Meskipun lampu tetap berfungsi normal.

Terima kasih Tuhan kami masih dalam lindunganMu! Segera kami melanjutkan perjalanan lagi. Di Tarutung kami singgah mengisi perut sembari memulihkan stamina. Tak jauh dari Tarutung ketika kami berencana menuju Medan tiba-tiba melalui radio komunikasi salah satu Terios tim 7Wonders mengeluh jika rem-nya sedikit bermasalah.

Kami segera berhenti, dan melakukan pengecekan. Ternyata penyebabnya karena beberapa kali melewati kubangan lumpur dan air maka disc brake basah sehingga pengereman tak seimbang. Setelah rem kami panasi dengan cara menjalankan mobil lalu direm bersamaan menginjak gas selama beberapa kali gejala yang dikeluhkan hilang.

Sip! Kami akhirnya bisa segera meluncur ke Medan. Rencananya sebelum melakukan aktivitas CSR kami akan melakukan pengecekan kendaraan sebelum memasuki rute berikutnya. Kami masuk di Kota Medan pukul 22.00 WIB.

1c86afe6b6c34cc5c917081beb16c119_229

9. Tarutung - Medan (Aksi Peduli Sesama)

Sahabat Petualang - Perjalanan panjang 7Wonders sudah mencapai separuh lebih dari rute yang direncanakan ketika kami sudah berada di Medan. Selain untuk memulihkan stamina selama 2 malam di Medan kami juga melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR). Program ini disinergikan dengan program CSR PT. Astra Daihatsu Motor (ADM).

Untuk di Medan acara simbolis penyerahan bantuan kepada 2 Posyandu dan 5 UMKM dilakukan di dealer Daihatsu, Jalan Sisingamangaraja No. 170, Medan. Kedua Posyandu Binaan yaitu Posyandu Kenanga 1 dan Mawar XII. Sedangkan UMKM yang mendapat bantuan adalah Wolken (pembuat bantal+guling), Keripik Pisang Bu Nur, Keripik Cap Merak, Berkat Rahmat dan juga Sirup Markisa Brastagi Bee. Total bantuan program ini nilainya mencapai lebih dari Rp 200 juta.

Usai kegiatan ke dealer Daihatsu, tim 7 Wonders juga langsung ke lokasi Posyandu Kenanga 1 yang berada di Kantor Kelurahan Pasar Merah Barat, Kecamatan Medan Kota. Tim 7Wonders juga ditemani Edy Susanto Kepala Cabang PT Astra Internasional Daihatsu Medan (AIDM), Akmal Sukmajaya - Corporate IT Div. Head ADM dan juga Asjoni - CSR Dept. Head ADM bersama tim CSR ADM.

7dddbfbe078970cd8ec1ebe04114949f_menyambangi-posyandu

10. Medan - Langsa (Etape terakhir)

Sahabat Petualang Perjalanan tim 7Wonders kini mulai memasuki etape terakhir yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Seusai check out dari Hotel Santika Medan tepat pukul 13.00 WIB, tiga Terios pun segera bergerak menuju provinsi Serambi Mekkah.

Perjalanan kali ini terasa agak berbeda karena ada tambahan anggota tim baru yaitu Rokky Irvayandi dari PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Head Office, Jakarta. Welcome a board Bro! Jika sebelumnya Terios berisi 10 orang kali ini menjadi 11 orang.

Rute perjalanan dari Medan menuju Langsa lumayan lancar. Kondisi jalan raya juga lumayan bagus dan cenderung flat. Meskipun di beberapa ruas jalan ada perbaikan dan pelebaran tapi tak sampai menyebabkan kemacetan. Jarak sekitar 200 km pun tak terasa jauh. Kondisi aspal jalan memasuki provinsi Aceh juga lumayan mulus.

Kami masuk kota Sabang sekitar pukul 18.30 WIB. Saatnya makan malam Untuk mendapatkan suasana yang khas Aceh kami sempatkan minum kopi dan makan malam di dekat alun-alun Langsa. Ketika menikmati hidangan sate matang dan martabak Aceh, dr. Marlunglung Purba atau biasa disapa Lung Lung ikut bergabung.

Dokter muda asal Medan ini bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Langsa. Wah kebetulan! Salah satu personil 7Wonders menderita sakit batuk yang selama di perjalanan. Dr. Lung Lung pun mengajak Toni untuk diperiksa ke RSUD. Setelah diperiksa akhirnya Toni mendapatkan suntikan dan resep obat.

Usai makan malam, kami putuskan untuk segera istirahat. Mengingat besok pagi jarak Langsa - Takengon lumayan jauh. Agar semua agenda bisa berjalan lancar kami harus berangkat pagi-pagi.

b0001b87e7f5b4dbdf53028a1ab6eb1e_240

11. Langsa - Takengon (Hangatnya kopi gayo)

Sahabat Petualang - Kota Takengon adalah persinggahan terakhir tim 7Wonders dalam mengeksplorasi 7 tempat penghasil kopi di Pulau Sumatera. Sepanjang perjalanan ini sudah ada 6 tempat yang kami kunjungi yaitu Liwa (Lampung), Lahat, Pagar Alam, Empat Lawang, Curup Kepahiang, Mandailing Natal dan sekarang giliran Takengon.

Kami berangkat dari Langsa ketika jam menunjukkan pukul 7 pagi. Banyak agenda yang kami rencanakan makanya perjalanan harus dirancang seefektif mungkin. Supaya tak banyak waktu yang terbuang. Mengingat jarak antara Langsa - Takengon sendiri juga cukup jauh sekitar 334,6 km.

Perjalanan cukup lancar selain lalu lintas tak terlalu padat kondisi jalan raya juga cukup bagus. Sekitar pukul 11 siang kami sudah sampai di Bireuen. Kota yang dulu kerap jadi ajang pertempuran antara GAM dengan aparat keamanan Indonesia. Suasana kota Bireuen dulu jelas jauh berbeda dengan sekarang. Suasananya aman dan damai. Kami pun memutuskan untuk makan siang di sini, mengingat rute dari Bireuen ke Takengon akan sedikit merepotkan jika harus mencari warung makan.

Rute Bireuen Takengon lebih banyak melewati perbukitan yang jauh dari pemukiman. Di daerah Cot Panglima pemandangannya cukup indah. Meskipun proyek pengerjaan jalan masih belum selesai. Jalan ini mengikis sebagian bukit dan dibuat lebih lebar. Ini penting karena di beberapa bagian terjadi kelongsoran.

Menjelang masuk Takengon, komunitas jip dari Gayo sudah menunggu. Mereka siap mengawal 3 Terios mencicipi trek bukit Oregon. Trek light off-road dengan pemandangan yang indah. Kemampuan Terios lagi-lagi diuji di sini. Kenyamanan dan juga ketangguhan kaki-kaki Terios terbukti andal. Melewati trek tanah berbatu dengan beragam kontur tak ada kendala berarti.

Sampai di ujung terakhir trek Oregon kami menyempatkan berhenti sejenak. Selain menikmati indahnya pemandangan kota Takengon dan Danau Laut Tawar, bersama dengn penyuka 4×4 menyeruput secangkir kopi panas sungguh pengalaman yang tak bisa dilupakan. Lewat secangkir kopi inilah meskipun baru saja bertemu pertemanan dengan komunitas jip di Gayo terasa lebih hangat.

a9cd73acc66b1eccf2eb11b7a1b1fd12_245

12. Takengon - Banda Aceh (Kopi Legendaris Takengon)

Sebelum meninggalkan kota Takengon menuju Banda Aceh, tim 7Wonders juga menyempatkan diri menikmati makan siang menu khas Gayo dan juga belanja souvenir khas Gayo. Rute perjalanan sama ketika kami datang dari Bireun. Hanya saja ketika sampai di Bireun kami langsung berbelok ke kiri dan mengambil arah ke Banda Aceh.

Jalanan ke Banda Aceh lumayan lebar dan mulus sehingga perjalanan bersama Terios pun menyenangkan. Kami akhirnya masuk di hotel pukul 23.30 WIB. Karena besok paginya harus menyeberang ke Sabang maka semua barang harus dipaking saat ini juga.

5be7600b262134a56f9f23724a0b5bcb_jalanan-berkabut-keluar-dari-takengon

13. Banda Aceh - Sabang (FINISH)

Sahabat Petualang Rangkaian perjalanan panjang tim Terios 7-Wonders sepanjang 3.657 km selama 15 hari berakhir di tugu Nol Kilometer tepat pukul 12.48 WIB (24/10). Dari sinilah pengukuran luas wilayah Indonesia dimulai. Saat ini teks lagi Dari Sabang Sampai Merauke sudah bisa kami nyanyikan. Meskipun baru dari Sabang, teks lagu Sampai Merauke-nya nanti tunggu jika Terios 7-Wonders ini selesai menjelajah Papua (Semoga bisa segera terwujud. Hehehehehe..)
Setelah beristirahat semalam di Banda Aceh, pagi-pagi kami harus segera bergegas menuju pelabuhan ferry Ulee Lheue. Para sahabat yang juga offroader dari Banda Aceh mengingatkan jika jadwal kapal ke Sabang agak ajaib. Bisa dipercepat jika penumpangnya padat. Kebetulan perjalanan ini mendekati hari raya Idul Adha atau Lebaran Haji. Banyak penduduk Aceh yang pulang kampung. Dari Sabang ke Banda Aceh atau sebaliknya Banda Aceh ke Sabang.

Makanya atas saran dari para sahabat, meskipun jadwal kapal ke Sabang baru pukul 11.00 WIB siang kami harus antri di lokasi pelabuhan minimal dari jam 7 pagi. Oh ya kapasitas angkut kapal ferry memang tidaklah besar, maksimal 30 kendaraan. Sampai di lokasi tiba-tiba ada kabar jika kapal lambat (ferry) akan berangkat pukul 09.00 WIB. Kami pun segera bergegas. Kalau lebih cepat menyeberang tentu lebih menyenangkan. Karena kami jadi punya waktu lebih banyak berada di pulau Sabang.

Sampai di pelabuhan ferry Balohan Sabang sekitar pukul 11 siang. Kami segera menuju kota Sabang, sahabat kami Ari Poenbit dari komunitas off-road pulau Sabang dan juga dokter Togu akan mengawal kami menuju tugu Nol kilometer. Tanpa menunggu waktu lama 3 Terios langsung bawa menuju tujuan akhir perjalanan panjang ini.
Akhirnya tiga unit Daihatsu Terios (2 matik dan 1 manual) berhasil kami bawa mencapai titik Nol kilometer di ujung pulau Weh, Provinsi Aceh Nanggroe Darussalam pada pukul 12.48 WIB. Perjalanan yang penuh pengalaman menarik selama 15 hari yang dimulai dari VLC Sunter Jakarta dengan total jarak 3.657 km berakhir sudah. Yihaaa.! Terima kasih banyak Tuhan atas berkah perlindunganMu!

Di Sabang, rombongan Terios 7-Wonders sudah ditunggu oleh para petinggi PT Astra Daihatsu Motor (ADM) antara lain, Amelia Tjandra, Rio Sanggau, Elvina Afny, Guntur Mulja dan beberapa wartawan nasional dari Jakarta yang diajak khusus menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Anggota tim 7-Wonders yang terdiri dari Tunggul Birawa (leader), Insuhendang, Bimo S Soeryadi, Ismail Ashland, Aseri, Toni, Arizona Sudiro, Endi Supriatna, Enuh Witarsa, David Setyawan (ADM), Rokky Irvayandi (ADM) mendapat ucapan selamat dari yang hadir di tugu Nol Kilometer.

Selamat! Terima kasih tim Terios 7-Wonders sudah berhasil mennyelesaikan seluruh etape perjalanan panjang ini tanpa ada kendala berarti. Terbukti Terios adalah SUV yang tangguh! komentar Amelia Tjandra Direktur Marketing PT ADM.

Seremoni singkat menandai berakhirnya ekspedisi ini dilakukan di Tugu Nol Kilometer. Plakat Terios 7-Wonders yang dibawa tim diserahkan oleh Tunggul Birawa selaku komandan tim kepada Amelia Tjandra. Selanjutnya plakat ini diserahkan kepada dr. Togu yang mewakili pemda Sabang. Plakat ini akan ditanam di lokasi yang memang sudah disediakan di sekitar lokasi tugu Nol Kilometer.

Setelah berfoto-foto sejenak, rombongan segera menuju ke Anoi Itam Resort Sabang untuk makan siang. Usai makan siang kami harus bergegas ke pelaburan ferry Baloha untuk segera naik kapal cepat Pulau Rondo. Kapal ini merupakan kapal terakhir dari Sabang menuju Banda Aceh. Kapal segera berangkat ketika jam menunjukan pukul 16.00 WIB. Sementara 3 Terios baru bisa dibawa ke Banda Aceh keesokan harinya pukul 08.00 WIB dengan kapal ferry.

Seluruh tim kecuali Insuhendang yang tinggal di Pulau Sabang untuk mengawal 3 Terios sampai di Banda Aceh dengan perasaan lega. Saatnya menikmati Banda Aceh dengan tenang. Hehehehe Tujuan pertama menikmati kopi Ulee Kareeng baru setelah itu mengunjungi Masjid Raya Aceh dan juga menikmati kuliner Mie Aceh yang disiapkan oleh sahabat daihatsu Alex HM yang juga ketua organda Banda Aceh.

dd67ed63f950d5d4a1fae98eb7e653a4_penyerahan-plakat1

Para sahabat petualang kita sudah menyaksikan perjalanan tim 7 wonders Terios. Woww sungguh mengagumkan ya. Mereka tak kenal lelah berpetualang mengarungi pulau Sumatera yang penuh tantangan dan benar-benar membanggakan semua pihak termasuk para konsumen Daihatsu Terios di Indonesia ini. Itulah yang disebut dengan Jiwa Petualang seperti itulah jiwa Mobil Terios sebagai sahabat para petualang.

Sumber :

www.daihatsu.co.id

www.blogdetik.com


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive